The Way Of Life: Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan
Google

Wednesday, May 10, 2017

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan





Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Pagi itu tanggal 5 Mei 2017 saya menerima 15 buah kunci pintu ( kunci asli plus duplikat ) untuk 5 buah pintu rumah baru saya di daerah Cileungsi. Rasa gembira tentu tidak terelakkan, karena di dalam kondisi saat ini sangat sulit untuk mendapatkan rumah di Jakarta dan sekitarnya. Sepanjang perjalanan saya terus membatin dalam hati, Terima kasih Tuhan Yesus. Tapi rasa bahagia ini masih kalah bahagia ketika pertama kali ditelepon oleh pihak bank bahwa KPR saya di ACC, 5 bulan yang lalu. 

Awal saya mengambil KPR, awalnya ketika salah seorang teman sekantor mengabari bahwa dia baru saja lolos KPR. Satu sisi ikut senang seorang teman akrab akhirnya memiliki rumah , satu sisi bertanya ke diri sendiri "Saya kapan beli rumah?". Tapi hal itu saya pendam dalam dalam karena untuk uang DP rumah saat itu tidak ada.Dan pada saat itu saya masih dalam tahap "recovery" untuk keuangan pribadi.  Pada suatu waktu bulan November awal 2016 saya mendapatkan satu proyek kecil pembuatan software. Saya memang kerap mendapatkan order proyek kecil software , karena secara waktu masih bisa saya bagi dengan pekerjaan rutin, jika terlalu besar dan rumit saya biasanya berikan ke rekan lain. Karena selain tidak terlalu jago coding, waktunya pembuatannya sangat menyita. Nilai proyek tersebut sebenarnya tidak seberapa untuk Down Payment KPR dari iklan perumahan yang ada di sepanjang jalan, di koran dan internet. Hanya waktu itu saya merasa lebih percaya diri dengan mendapatkan proyek itu. 

Akhirnya ketika saya sedang jalan jalan di Mall dekat kontrakan, ada pameran perumahan dari pengembang yang membangun Mall tersebut. Akhirnya saya meminta brosur kepada marketing yang sedang berjaga. Disitu tertulis DP bisa dicicil setahun, artinya saya bisa mencicil DP selama setahun setelah itu baru bisa akad kredit. Lokasi perumahan berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari kontrakan saya sekarang. Marketingnya mengatakan hari sabtu dan minggu dia ada di kantor marketing, jadi bisa bertemu di sana. Akhirnya saya kontak teman saya sudah lolos KPR ( yang saya ceritakan di atas ). Saya berkonsultasi dengan  dia via WA, saya menceritakan lokasi, DP dan sebagainya. Dia bilang sabtu bareng dia ke lokasi, dan ternyata perumahan dia dan perumahan yang saya incar ternyata jaraknya berdekatan, jadi sekalian dia mengecek rumahnya.
Developer perumahan saya lebih besar secara perusahaan dibanding developer perumahan teman saya. Akhirnya kami tiba di kantor marketing perumahan yang saya incar, kemudian bersama dengan marketing tersebut kami mengecek lokasi, sepanjang perjalanan menuju ke lokasi kami melewati perumahan dari pihak pengembang yang sudah lebih dulu ada. Perumahan tersebut sudah menyerupai kampung  karena sudah banyak pemilik rumah membuka toko di rumahnya sehingga kurang bagus dilihat. Akhirnya kami tiba di lokasi, ada 2 hal yang mengganjal saya waktu itu setelah melihat rumahnya, pertama batas antar rumah hanya 1 lapis tembok , kemudian kedua ukuran kamar tidur lumayan kecil sehingga nantinya jika diisi kasur sudah penuh. Kemudian untuk lingkungan sekitar meskipun masih banyak pohon tapi terasa kering dan panas. Tetapi untuk akses memang perumahan ini banyak akses jalan ke beberapa titik. 

Akhirnya setelah puas melihat kami pun berpamitan dan melanjutkan melihat perumahan teman saya, yang ternyata "bersebelahan" jika dilihat dari Google Map satellite view. Begitu masuk gerbang utama perumahan, nuansa hijau pepohonan dan taman sangat terasa. Perumahan ini mempunyai model semi cluster alias cluster isi banyak. Saya lihat juga pihak pengembang tetap menyisakan ruang untuk pembangungan taman, tidak serakah sebagian besar lahan diisi untuk pembangunan rumah. Kemudian saya mengecek rumah teman saya yang sedang dibangun, pertama tembok pembatas double alias tiap rumah punya tembok sendiri tidak join, lalu ukuran kamar tidur lebih luas dibanding perumahan yang saya incar sebelumnya. Dan satu lagi yang membuat saya "jatuh cinta" adalah adanya spot taman / ruang terbuka di bagian tengah rumah yang membuat tipe rumah ini menjadi menarik. Kemudian setelah puas melihat rumah teman saya, saya pun minta nomor WA marketing perumahan tersebut.

Dalam perjalanan teman saya nyeletuk " Piye bro, apik to? Wes jupuk wae ( Bagaiman bro, bagus khan? Dah ambil saja) " "Iyo bro" jawab saya. Dalam hati saya tertarik hanya saat itu dompet sedang tipis dan Down Payment proyek pun belum cair sehingga saya masih belum begitu pede. Beberapa hari kemudian marketing perumahan teman saya tersebut menghubungi saya melalui  telepon, dia bilang DP 1 jt dahulu agar masuk waiting list sehingga ketika ada proses kredit yang gagal saya bisa masuk. Saat itu memang tipe rumah 45/91 sudah sold out sehingga saya hanya bisa menunggu "bola muntah" jika ada.  Saya bilang ke marketinya "Iya pak, saya pikir pikir dulu". Karena saat itu pun uang 1 jt saya tidak pegang. Akhirnya pada tanggal 26 marketing tersebut telepon saya lagi untuk DP 1 jt dahulu, takut tidak dapat slot waiting list karena rebutan katanya. Marketing tersebut memang jenius, dia tahu saja kalau tanggal 26 habis gajian, dompet masih tebelan dikit. Akhirnya saya pun DP 1 jt untuk masuk waiting list, artinya jika tidak ada proses kredit yang gagal, uang saya dikembalikan. 

Setelah berapa lama akhirnya saya mendapatkan slot untuk blok No: 2, saat itu saya sudah senang karena mendapatkan slot, tapi di tengah jalan ternyata customer yang gagal tersebut bisa lolos KPR di bank lain, akhirnya blok No:2 batal jadi milik saya, pihak marketing pun meminta maaf ke saya dan menawarkan blok No: 3, saya bilang tidak apa apa, yang penting tipe sama ( cicilan sama :-) ). Akhirnya KPR saya pun diproses, jika secara syarat untuk masa bekerja saya pasti masuk karena lebih saya bekerja sudah lebih dari 2 tahun. Kemudian BI checking OK, karena saya tidak pernah ada kredit macet. Hanya secara gaji memang limit sehingga hal inilah yang membuat saya dag dig dug. Sampai akhir tahun 2016 proses KPR saya belum jelas, ada dari satu bank Syariah menawarkan cicilan yang besar yang bisa saja saya ambil tapi saya menolaknya karena cicilan terlalu besar ( jenis cicilan flat ). Kemudian 1 lagi dari bank konvensional secara data saya KPR saya ditolak. Akhirnya saya hanya menunggu dari 1 bank lagi yaitu bank BRI, liburan Natal akhir tahun 2016 yang seharusnya dilewati dengan gembira, saat itu dilewati dengan dag dig dug dor. Akhirnya awal tahun 2017 saya ditelepon dari bank BRI bahwa KPR saya disetujui, SP3 sudah keluar,rasanya bahagia sekali.  Mulai hari itu dan sekitar 2 bulan kedepan ketika berangkat dari rumah kontrakan ke tempat kerja dan pulang kerja rasanya seperti "melayang", hampir tidak percaya akhirnya saya memiliki rumah. Dan kisah berikutnya adalah keajaiban beruntun sampai saat ini.

Dari pengalaman ini saya merasakan sendiri, apa yang sering dikatakan orang - orang bahwa membeli rumah itu seperti jodoh.  Iya jodoh, karena sebelumnya saya tidak ingin membeli perumahan yang sekarang saya dapat, dan pada saat itu uang cash untuk DP pun saya tidak ada. Ada juga teman sekantor yang sudah lolos semuanya akhirnya tidak jadi membeli rumah karena alasan yang tidak saya ketahui, padahal jika dari segi gaji dan syarat - syarat dia jauh lebih baik daripada saya. Tulisan ini saya buat sebagai rasa terima kasih saya kepada Tuhan Yesus yang sudah memberi jalan kepada saya untuk memiliki rumah, rumah ini saya dapatkan bukan karena kemampuan saya sendiri tetapi karena kemurahan berkat Tuhan yang berbentuk jalan / kesempatan diberikan ke saya. Terima kasih Tuhan Yesus.


Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home